1 Januari 2018

1998 pertama kali kita bertemu,pertama kali kita berkenalan, pertama kali kita berteman. Tak pernah terbayangkan manusia ini yang akan menjadi berlabuh nya hati ku.

2001 tanggal 29 April tepat hari ulang tahunku, pria ini juga yang memberanikan diri untuk menyatakan cintanya padaku, walaupun jujur sudah aku nantikan berbulan bulan lama nya untuk mendengar dia mengucapkan kata-kata itu ☺️ umur kita masih sama sama sangat muda saat itu, kami masih duduk di bangku SMA kelas 3. Seperti layaknya film dan sinetron-sinetron Indonesia, perjalanan kisah asmara kami juga tentu tidak selamanya mulus dan bukan tanpa hambatan. Keluarga saya keluarga yang Islamis, pacaran bukan suatu pilihan. Tp saat itu ketika jiwa kami masih muda, main petak umpet menjadi pilihan, tapi alhamdulillah kami masih bisa menjaga kehormatan masing-masing sampai saat bapak KUA menyatakan SAH. Lelaki ini tak pernah mengecewakan aku dari awal kita bertemu.

Tahun 2004 ketika kami sama-sama kuliah di tempat yang sama di Universitas Padjajaran Bandung, badan ini tiba-tiba ambruk lunglai tak ada daya. Dokter menyatakan saya mengidap penyakit TBC tulang. Tulang dalam tubuh ini tidak dapat menopang berat nya badan. Kaki ini sakit luar biasa, untuk ke kamar mandipun aku harus meminta bantuan keluarga. Badan ini tak seindah ketika masih jaman SMA. Tubuh ini kurus luar biasa. Bulan berganti tahun berganti dan penyakit ini juga terus berganti dari tahun ke tahun seolah tak ada habisnya seolah tak pernah kunjung sembuh. Tapi lelaki ini tetap di sampingku kukuh mengatakan tak ada cintanya yang berubah. Aku tahu dia kecewa dia sedih tapi tak pernah dia tampakkan di hadapanku.

2007 28 April pria ini mantap meminangku menjadi istrinya. Saat itu badanku masih lemas, masih kurus kering, masih berpenyakit. Aku bertanya padanya “mana mungkin kau masih mencintaiku dengan kondisi aku saat ini?” Dia berkata dan masih ku ingat kata-kata itu sampai detik ini “aku mencintaimu sejak pertama kita bertemu dan sampai saat ini rasa itu belum berubah dan tak akan berubah hanya karna kondisimu saat ini” hati ini berbunga luar biasa indah nya. Ternyata selalu ada hal indah dalam segala musibah.

Tahun 2010 3 tahun pernikahan kami, kami lewati dengan suka dan duka, tapi sepertinya lebih banyak kesedihan yang kami alami. Lagi lagi penyakit itu datang kembali. Kini penyakit itu menyerang bagian terpenting dalam hidupku, ia menyerang otak. Aku di vonis mengidap penyakit meningitis, radang selaput otak. Aku dilarikan ke rumah sakit karna kondisiku yang sudah sangat tidak kondisif. Masih ku ingat berat badanku saat itu hanya 30 kilogram. Saking parahnya aku memasuki kondisi koma 3 hari. Dokter katakan ketika aku sudah bangun berkata suatu mukjizat bisa terbangun kembali dari koma meningitis setelah 3 hari. Aku yakin keajaiban itu tidak pernah luput dari doa-doa yang di panjatkan keluargaku.

Hari pertama aku terbangun dari koma aku berada di ruangan HICU High Intensive Care Unit. Ku cari-cari wajah yang aku kenal, ku lihat dari sudut pintu senyuman merekah di wajah yang paling aku rindukan. Entah mengapa koma ku hanya tiga hari tapi seolah lama sudah aku tak melihat senyuman penuh kasih sayang itu. Dia menghapiri ku dan berkata “kau sudah bangun” bisa ku lihat kau menahan air mata itu. Tuhan terimakasih kau memberikan aku lelaki dan suami yang sangat mencintai aku.

Cobaan kami tidak sampai disitu. Cobaan untuk ketegaran lelaki ini belum sampai batasnya. Waktu berlalu hari berganti. Perkawinan kami menginjak tahun ke 11 tahun ini. Sampai saat ini pun kami belum dikaruniai seorang anak, kami belum dapat kepercayaan itu. Kerinduan itu semakin memuncak setiap hari nya. Berbagai dokter kami datangi, berbagai metode kami jalani, dia lelaki yang mendapingi ku tak pernah mengeluh, dia ikuti sampai mana aku keukeuh untuk berjuang agar kami mendapatkan sang buah hati.

Suatu hari satu dokter mengatakan untuk kami buang jauh-jauh angan-angan kami untuk mendapatkan seorang anak, dokter itu mengatakan virus meningitis yang dulu aku derita menyerang satu-satu nya harapanku untuk mengandung, ia menyerang rahimku. Tuhanku.. cobaan mana lagi yang harus kami terima. Sakit nya hati ini tak bisa di bandingkan dengan sakit badan ku yang aku alami bertahun tahun. Sakit hati ini luar biasa. Mana mungkin aku bisa hadapi dunia ini ketika aku tak akan bisa menjadi wanita seutuhnya, ketika aku tak akan bisa menjadi istri yang sempurna untuk suami ku yang sempurna.

Satu malam rasanya aku sudah putus asa, air mata tak henti membanjiri mata ini, hati ini rasanya sudah hancur berkeping-keping. Lelaki ini lagi-lagi menguatkan aku, dia berkata “biarlah di dunia ini kita hanya berdua, yakinlah di akhirat nanti mereka anak-anak yang kita harapkan akan menunggu kita dengan senyuman dan pelukan yang hangat yang akan sabar menanti kita seperti kita selalu berusaha sabar menanti mereka”

Illahi.. aku bersyukur padaMu, kau berikan aku lelaki yang sangat luar biasa. Dia menerimaku dalam segala keadaan, dia menerimaku dalam kondisi terburuk ini. Dia tak pernah menyerah, tak pernah lari dan tak pernah mundur dalam segala cobaan hidup.

Whisnu suamiku, tidak salah orang tuamu memberikan nama itu untukmu. Kamu menjadi Dewa Whisnu untukku, penolong dalam ketepurukanku, penyelamat dalam keputus asaanku. Tak akan pernah cukup rasa terimakasihku pada Tuhanku karna memberikan kamu padaku. Tak akan pernah cukup juga rasa terimakasihku untuk cinta yang kamu berikan padaku. Aku berdoa Tuhan selalu akan mencintaimu dalam keberkahan dan kebahagiaan.

Aku mencintaimu suamiku..

@30haribercerita #30haribercerita

Advertisements

Terima Kasih Hati, Kau Sangat Luar Biasa

Pernahkah kau merindukan sesuatu yang belum pernah kau temui sebelumnya?

Pernahkah kau menangis di ujung malam karna hatimu tiba-tiba pilu entah karna apa?

Pernahkah kau merasa ada satu di sudut hati yang selalu terasa kosong hampa sepi?

Pernahkah kau merasa terluka tapi tak pernah kau temukan luka di hatimu?

Hasil gambar untuk hati

Duhai sahabat, itu lah yang hatiku rasakan setiap harinya. Andai dapat aku buka tubuhku dan memeluk erat hatiku, aku akan katakan “terimakasih karna kau begitu kuat begitu tabah, begitu luar biasa”

Jalan kita masih panjang, ini belum seberapa. Jalan di depan akan lebih berat dan akan lebih berliku. Kita akan jatuh, terluka, sakit, tapi kita juga akan selalu bangkit kembali. Karna aku yakin Hati yang Tuhan buatkan untuk ku tak akan rapuh hanya karna di terpa kerikil-kerikil kehidupan.

Aku belajar sabar menanti dari orang-orang yang luar biasa di sekitarku. Mereka tak pernah mengeluh bagaimana hati mereka pun di “obrak-abrik” kehidupan. Aku belajar bahwa mengeluh hanya untuk mereka yang lemah Hatinya.

Kini aku bersyukur untuk diberikan Tuhan Hati yang kuat, aku bersyukur Hatiku selalu bisa menguatkanku. Aku yakin Hati ini akan mengantarkanku pada pujaan hatiku, Hati ini yang akan terus mendampingi ku dalam suka dan duka. Hati ini yang tak akan pernah mengecewakan aku.

Terima Kasih Hati, Kau Sangat Luar Biasa

 

 

Drama Korea

Saya bukan penggemar Drakor alias Drama Korea. Itu saya katakan sebulan yang lalu ketika saya belum melihat drakor yang berjudul Goblin. Kini otak saya dipenuhi dengan lagu-lagu drakor, tiap malam jadi “nyandu” nonton drakor demi drakor.

drakor

Berawal dari Goblin, Descendants Of The Sun dan sekarang That Winter The Wind Blows. Masih banyak lagi drakor-drakor yang lain yang sepertinya lagi-lagi membuat “nyandu”. Drakor ini menyerupai narkoba, sekali anda coba susah sekali untuk mengakhirinya. Cerita setiap drakor berbeda-beda, tapi kebanyakan semua nya tentang romantisme, tapi beda dengan sinetron dalam negri, drakor lebih banyak di perankan oleh aktor yang sudah cukup dewasa, beda kalo kita selalu nonton sinetron yang diperankan oleh anak yang masih bau kencur memerankan kisah percintaan. Akting mereka juga ga “lebay” itu kata sepupu saya yg ikut “nyandu” drakor 🙂

Selain menyebabkan efek ketagihan, drakor juga sukses membuat kami pecandu drakor jadi “sumu” alias susah move on -_- dulu ketika saya masih belum “nyandu” saya sering tanya sama teman saya apa bagusnya drakor, dan mereka selalu dengan semangat menerangkan bagaimana keseruan drakor dan sudah mewanti-wanti saya kalo sekali sudah nonton pasti gakan mau berhenti. Dan itu saya alami sekarang….

Kalo di fikir-fikir lagi saya juga jadi heran apa yang membuat drama korea begitu diminati orang Indonesia di bandingkan dengan sinetron dalam negri sendiri. Para pemainnya kah? atau jalan cerita nya?

Tahun 90an kita dimanjakan dengan Telenovela, serial drama dari negri Meksixo, mulai dari Marimar, Maria Mercedes, Maria Cinta Yang Hilang dan Telenova paling favorite saya adalah Betty La Vea 🙂 jalan cerita telenovela saat itu juga menarik untuk di ikuti tapi tidak membuat Susah Move On seperti drakor 😦

Bila anda ingin mencoba nonton Drama Korea , saya sarankan anda memulai petualangan ini dengan menonton drakor berjudul Goblin, very recomen banget deh 🙂

Selamat “nyandu” 🙂

Salam dari kami penyandu drakor 🙂 🙂

 

Lagi-lagi pertanyaan itu

Entah tradisi atau hanya basa basi, yang jelas satu kebiasaan yang sangat tidak saya tunggu-tunggu dalam setiap pertemuan, membuat saya tiba-tiba jadi tertuduh seketika.Membuat orang-orang seperti saya tidak mau “bersilaturahmi” 😦

Moment hari raya seperti Idul Fitri dan Idul Adha adalah moment dimana paling harus menyiapkan mental dan hati, terlebih lagi hati.

Pertanyaan yang selalu sama dari tahun ke tahun, dari pertemuan ke pertemuan, seolah-olah tidak ada pembicaraan lain selain kalimat itu.

Pernahkah mereka ada di posisi kami? pernah kah mereka merasakan bagaimana rasanya di beri pertanyaan itu? pertanyaan yang lebih menyakitkan bila di tanyakan oleh orang yang harusnya paham betul tentang menjaga “hati”.

10 tahun waktu yang cukup menurut saya untuk membuat mereka berhenti melontarkan pertanyaan itu. Enough Is Enough !!

Bila membuat hal yang sangat istimewa itu mudah bagi anda, bisakah saya meminta anda untuk membuat keajaiban itu untuk saya? Pasti anda akan menjawab “itu kuasa Sang Maha Kuasa”.. lalu mengapa saya tidak bisa memberikan anda jawaban yang sama agar anda puas dan berhenti bertanya? Terlalu mudah hanya untuk bertanya bukan tanpa harus ada di posisi untuk menjawab…

 

 

Kami Lelah,, Lelah Sangat

Sering kita menjaga hati orang lain agar kita tampak baik di mata mereka, tapi kita lupa tak menjaga hati orang terdekat kita. sering kita lupa apa yang kita lakukan sebenarnya menyakiti hati mereka. kita sibuk membahagiakan orang lain tapi lupa sebenarnya ada yang harus lebih kita bahagiakan.

Apakah karna kita selalu “ada” lalu kau bisa memperlakukan kita seenaknya? apakah karna kita tak pernah marah lalu kau bisa lakukan sesuka hatimu? apakah karna kita selalu diam lalu membuat mu merasa berhak untuk membicarakan kami dibelakang punggung kami?

Orang bilang sabar itu tak ada batasnya, untuk beberapa saat saya meyakini hal itu. tapi sepertinya sabar dalam berbagai kasus beda batas kesabarannya. sudah cukup lama kami diam, sudah cukup sepertinya kami menahan agar tak ada keluar kata-kata yang mungkin akan menyakitkan keluar dari mulut kami.

Kini ijinkan saya mengeluarkan segala resah ini dalam beberapa kalimat atau paragraf dalam “diari” digital ini.

Kami lelah kau selalu menempatkan kami dalam posisi yang salah. kami lelah kau selalu datang bila sedang membutuhkan kami saja. kami lelah selalu menjadi tumpuan mu. kami lelah selalu yang harus mengerti keadaan tapi tak pernah kami yang di coba untuk kalian mengerti. kami lelah selalu memasang wajah bahagia bila sebenarnya hati kami sedang terluka. kami lelah selalu menjaga hati kalian ketika kalian tak pernah menjaga hati kami atau setidaknya mencoba sedikit saja mengerti keadaan kami. Kami lelah selalu dalam posisi mengalah. Kami lelah selalu dalam posisi untuk mengerti segala kebutuhan kalian disaat kalian lupa bahwa kami juga ingin kebutuhan itu. Kami lelah….lelah sangat….

Tau kah kamu bahwa kami sedang berjuang? tau kah kamu bahwa kami sedang bergelut dengan segala emosi, masalah, problematika, dan perasaan yang tak karuan? tau kah kamu bahwa sebenarnya kami tidak baik-baik saja?

Kau dulu pernah bilang ini hanya sementara saja, kau dulu bilang “sabar dulu nanti juga semua akan berubah” kini aku bertanya padamu, kapan semua ini akan berubah? semakin lama bukannya semakin membaik tapi malah seperti nya mereka sudah terlalu terbiasa dengan kami yang selalu “ada”.

Kami lelah…

 

I hate this feeling…

10 tahun seharusnya rasa ini tak perlu untuk muncul kembali. Selalu aku katakan pada orang-orang bahwa aku sudah terbiasa dengan perasaan ini, bahwa aku tidak apa-apa. i told them that i am oke. tapi perkataan itu hanya membodohi diriku sendiri. Perasaan ini makin hari makin mengikis pertahanan hati ku. Seharusnya dengan berjalan nya waktu, aku sudah bisa mulai terbiasa dengan situasi ini.

Bila kau ingin tahu perasaan ku yang sebenarnya, hati ku hancur, hati ku luka. Aku ingin menangis, ingin teriak agar seisi dunia mengetahui perasaanku. Sampai mana kah penantian ini? sampai manakah kesabaran ini? Mereka yang bilang “smua akan indah pada waktunya” pasti belum pernah merasakan dalam posisi ini. Mereka tak pernah akan tahu apa yang sedang kami alami.

Ya Tuhanku.. begitu besarkah dosa kami? seolah doa kami ini tak kunjung menjadi kenyataan. Ya Tuhanku..Ampuni dosa-dosa kami yang menutup di ijabahnya doa kami..

Kini, aku ingin berbicara pada “mu” . Bagaimana perasaanmu? apa yang kau rasakan? apakah sama seperti yang aku rasakan? apakah hatimu juga terluka sama seperti hatiku? kau tak pernah terlihat goyah, aku tak pernah melihatmu terluka oleh situasi ini. Apakah itu perasaanmu yang sebenarnya? ataukah kau hanya tutupi agar aku tak semakin terluka??

Pasrah, putus asa, ikhlas, katakan padaku apa arti dari semua itu? aku ingin tahu sedang dimana posisi aku saat ini. katakan padaku bagaimana dapat aku obati luka ini.

kemana harus kucari, kekasih yang telah pergi…

siang malam tiada henti, seakan semua semakin menyiksa…

 

Cobalah berada di posisi kami…

Ia yang selalu ku rindu, tampak selalu semakin menjauh. Ia seperti dekat tapi ketika kudekati mengapa seolah membuat jarak.

Pertanyaan sama yang selalu orang tanyakan pada kami “kenapa qo ga program lagi?” “sayang banget qo berhenti ikhtiar sih?” “kenapa ga coba bayi tabung aja?” “coba ke Singapura pengobatan disana manjur” “ke alternatif aja banyak yang berhasil lho” dan banyak lagi pertanyaan dan anjuran yang mereka lontarkan.

Yang mereka tak pernah tahu, kami sudah melakukan itu semua. Kami sudah melewati segala proses dan jalan itu. Apakah mereka tak tahu kondsi hati kami ketika melewati itu semua? bukan hanya badan tapi hati kami juga lelah dengan semua proses itu. kini bolehkah kami yang bertanya. tahu kah kau bagaimana perasaan kami? setiap proses memberikan harapan tinggi, memberikan angin surga yang teramat harum. dan ketika semua proses itu tidak berhasil, tahu kah kau bagaimana hancurnya hati ini? puluhan cara puluhan jalan kami lalui dan hanya menuju jalan buntu, bisa kah kau bayangkan perasaan kami???

Coba sekali saja berada dalam posisi kami. Coba rasakan bagaimana perasaan kerinduaan yang terus menghimpit dada kami. Jangan pernah kau berani berlagak menjadi Tuhan, kau merasa paling ahli, kau merasa tanpa usaha pun kau bisa mendapatkan dengan mudah apa yang selama ini kami rindukan.

Cobalah merasakan apa yang kami rasakan sebelum kata-kata “manis” itu keluar dari mulutmu….